Sedekahkan Tanahnya, Dari Infertil Sampai Positif Hamil
Tanggal Terbit: 22 August 2019

Astrid Tito tergolek lemah. “Sudahlah, silakan cari istri lagi saja,” ujarnya pada sang suami. Ia bicara begitu lantaran merasa down sedalam-dalamnya. Betapa tidak. Dibayangi kengerian vonis dokter bahwa dirinya infertile, wanita muda itu ternyata bisa hamil.

---

Tetapi, ketika tiba waktunya, ternyata ia musti melahirkan lewat operasi caesar. Ditambah, anak pertamanya itu cuma bertahan hidup 17 hari. Dan yang lebih menelangsakan, ternyata sang bayi berkelamin ganda (kuntsa). Astri menyerah, ia sangat terpukul sampai mempersilakan suaminya menikah lagi saja.

Namun, jawaban sang suami sungguh di luar dugaannya. “Ini, kan ujian buat kita bersama, kenapa saya harus tinggalkan kamu sendirian?” katanya, yang membuat Astrid terlecut untuk move on.

Suaminya memang sosok yang luar biasa. Padahal, Astrid mengaku tadinya dia begajulan. “Dulu saya suka nongkrong di kafe. Bisa dibilang, saya dulu anak gaul yang sangat suka dengan gemerlap dan hingar binger kehidupan malam (dugem),” kenang Astrid.

Namun, di tengah dentam hentakan ritme kehidupan hedonis, diam-diam terbesit kegelisahan di dasar hati Astrid. Ia merasa lelah dengan rutinitas hedonis tiada makna. Hanya kesenangan sesaat, persahabatan semu dan penghamburan uang dan waktu.

Ia ingin meninggalkan semua itu dan berlabuh di pantai kedamaian. Tapi, tak tahu harus mulai dari mana, hingga suatu ketika sepulang kerja ia menemukan sebuah brosur dari penjual buku. Brosur itu mempromosikan sebuah buku berjudul La Tahzan, karya Syeikh Abdullah Al-Qorni.

Dari menyimak buku bernas yang menguntai hikmah dengan kalimat sejuk dan indah itulah, Astrid mendapat suntikan energi positif. Kesadaran spiritualnya perlahan bertumbuh. Kerinduannya untuk mendekati Sang Pencipta pun membuncah.

Astrid pun, sampai di titik kesadaran bahwa ia harus taat beribadah dan berbusana muslimah. “Saya mulai memiliki kesadaran berjilbab. Selain itu, saya juga berusaha menjaga sholat wajib saya dan menambahkan dengan sholat tahajud,” katanya.

Tentu, perubahan drastis Astrid memunculkan gelombang dahsyat reaksi negatif dari habitatnya selama ini. “ Tidak mudah memang jalan untuk kembali. Selalu saja ada godaan. Terutama yang datang dari kawan-kawan nongkrong,” kenang Astrid.

Delapan bulan sejak titik balik dalam kehidupannya, Astrid menemukan jodohnya. Meninggalkan budaya pacaran, mereka menikah lewat jalan sunah. Namun, pernikahan mereka dibayangi dengan kondisi Astrid yang telah divonis oleh dokter bahwa ia akan sulit mendapatkan keturunan. Itu karena ada kista endometriosis yang bersemayam di kedua sel telur (ovarium)-nya.

Pantang menyerah, Astrid pun mencoba berbagai macam terapi alternatif atas saran dari orang tua, kerabat, maupun sahabat. Yang herbal lah, yang pijat lah, juga mendatangi dokter yang katanya ampuh. Bahkan, inseminasi pun ia lakukan.

“Saya orangnya tidak sabaran. Semua saran dan informasi yang saya terima, selalu saya jajal. Namun, semuanya belum mendapatkan hasil,” katanya.

Hingga akhirnya, datang juga tanda-tanda kehamilan. “Sebentar lagi saya, jadi wanita dan istri yang sempurna,” batinnya sambal membayangkan menimang bayi merah yang baru dilahirkannya.

Namun, apa hendak dikata, takdir ternyata punya perhitungannya sendiri. Anak pertama Astrid tidak diizinkan untuk hidup lama dengan menyandang kekurangan fisik sejak lahir.

Di tengah gundah, suatu ketika ia turut menyimak Ustaz Yusuf Mansur yang mengisi tausiyah di kantor tempatnya bekerja. Sang ustaz ketika itu menyampaikan keajaiban sedekah, yang dapat menjadi ikhtiar perantara dalam membuka pintu rezeki, menemukan jodoh, dan mendapatkan keturunan.

Astrid tertarik. “Hmm, pas bener dengan masalahku,” batinnya. Maka, selepas pengajian, ia memburu Ustaz Yusuf Mansur untuk menggali lebih jauh materi yang disampaikan tadi.

“Kalau masalah anak, ini investasi spesial yang tidak ada harganya, maka harus ditebus dengan berinvestasi kepada Allah sesuatu yang paling berharga bagi diri kamu,” nasihat ustaz.

Astrid lalu mendata aset apa yang sangat berharga bagi dirinya saat itu. Wanita itu kemudian berdiskusi dengan sang suami. Suami menyarankan, agar Astrid lebih dulu memperbaiki ibadah sebelum melakukan sedekah habis-habisan.

Lalu, mulailah ia memperbaiki dan meningkatkan kualitas serta kuantitas hubungannya dengan Allah SWT. Sholat tak cukup hanya wajib 5 waktu, tapi selalu tepat waktu dan diiringi sholat sunat. Dhuha dan sholat malam pun jadi kebiasaan. Sedekah pun ditingkatkan, dari yang tadinya 10 persen menjadi 20 persen dari penghasilan.

Bahkan agar lebih leluasa beribadah, Astrid akhirnya keluar dari pekerjaan kantorannya.

“Ajaibnya, begitu saya resign dari kantor dan meningkatkan sedekah, satu bulan berikutnya gaji suami naik sesuai dengan gaji saya sewaktu masih bekerja,” ucap Astrid.

Tak putus harapan untuk memiliki anak lagi, Astrid kembali berkonsultasi kepada dokter terpercaya. Sang dokter menyarankannya untuk menempuh proses bayi tabung. Astrid nyaris melakukannya, sebelum tersadar untuk menempuh jalan sedekah.

Maka, Astrid akhirnya mewakafkan tanahnya. Bekerjasama dengan PPPA Daarul Qur’an, di atas tanah tersebut dibangun Pesantren Al-Qur’an Baitul Adzkia.

Untuk membiayai pembangunan pesantren itu, Astrid Tito yang bersemboyan hidup Dream, Pray & Charity, Action menyedahkan royalty novel karangannya yang berjudul Aargh! Di Mana Jodohku?! Sedangkan uang yang tadinya hendak digunakan untuk operasi bayi tabung, ia sedekahkan kepada anak yatim.

Dengan perasaan bergetar, antara optimis dan khawatir akan kedahsyatan sedekah, Astrid menghitung hari. Akhirnya, tibalah saat yang dinantikan. Ia positif hamil lagi.

“Saat saya periksa ke dokter kandungan, dokter tersebut kaget. Saya kok bisa hamil,” kenang Astrid sambal tersenyum.

Alhamdulillah, akhirnya Astrid bisa menjalani kehamilan dengan normal. Anaknya lahir dengan selamat, begitu pun ibunya. Bahkan, saat ia masih dalam masa menyusui anak perempuannya itu, berkah Allah kembali datang. Astrid hamil lagi. Berjarak setahun lebih dari anak kedua, lahirlah anak ketiganya. Laki-laki, juga sehat dan normal. Lengkap sudah kebahagiaannya.

Keberkahan juga hadir dalam bentuk rumah sendiri yang sangat memadai di bilangan Kebagusan, Jakarta Selatan. Rezeki ini jauh lebih baik ketimbang rumah kecil yang mereka kontrak sebelumnya.

Begitu pun ketika Astrid sekeluarga harus bermukim di Singapura karena tugas kantor sang suami. “Di Singapura, kami tinggal di condominium yang nyaman khusus untuk ekspatriat. Semua fasilitas itu disediakan kantor suami,” ungkap Astrid.

Sumber : Buku Tim PPPA Daarul Qur'an Berjudul Dahsyatnya Sedekah 3


Tanggal Terbit:
WHATSAPP

Paling Populer
13 Bukan Angka Sial
20 April 2017
Menjaga Niat Selama Ramadhan
7 June 2017
Merindu Ramadhan
7 June 2017